Dua Kitab Kuning yang Menjadi Fondasi Pendidikan Santri di Aceh

Oleh: Siti Hajar

Bagi masyarakat Aceh, kehidupan dayah tidak dapat dipisahkan dari tradisi mengaji kitab kuning. Sejak ratusan tahun lalu, kitab-kitab klasik karya para ulama menjadi rujukan utama dalam mendalami ilmu-ilmu Islam. Di ruang-ruang belajar yang sederhana, seorang teungku membacakan isi kitab, menerjemahkannya, lalu menjelaskan maknanya kepada para santri. Di sela-sela halaman kitab, para santri menuliskan catatan kecil sebagai bekal untuk dipelajari kembali.

Istilah kitab kuning sebenarnya tidak selalu merujuk pada warna kertasnya. Dalam tradisi Nusantara, istilah ini digunakan untuk menyebut kitab-kitab klasik Islam yang menjadi bahan ajar di pesantren atau dayah. Sebagian ditulis dalam bahasa Arab tanpa harakat (kitab Arab gundul), sebagian lagi menggunakan bahasa Melayu beraksara Arab atau yang lebih dikenal sebagai kitab Jawi.

Di antara sekian banyak kitab yang dipelajari, ada dua kitab yang memiliki kedudukan sangat penting sebagai fondasi pendidikan santri, yaitu Al-Ajurumiyah dan Fath al-Qarib. Hampir semua santri di Aceh mengenal kedua kitab ini, meskipun waktu mempelajarinya dapat berbeda sesuai kurikulum masing-masing dayah.

Al-Ajurumiyah: Gerbang Memahami Bahasa Arab

Sebelum mampu membaca kitab-kitab besar karya para ulama, seorang santri terlebih dahulu harus menguasai bahasa Arab. Di sinilah peran Al-Ajurumiyah.

Kitab yang disusun oleh ulama asal Maroko, Ibnu Ajurrum, merupakan kitab dasar ilmu nahwu atau tata bahasa Arab. Meskipun ukurannya relatif tipis, kandungannya sangat penting karena mengajarkan bagaimana mengenali fungsi setiap kata dalam sebuah kalimat.

Mengapa kitab ini begitu istimewa?

Karena bahasa Arab tidak hanya bergantung pada susunan kata, tetapi juga pada perubahan akhir kata (i'rab). Kesalahan membaca satu harakat saja dapat mengubah makna sebuah kalimat. Oleh sebab itu, seorang santri tidak cukup hanya mampu membaca huruf Arab, tetapi juga harus memahami kaidah bahasa yang mengaturnya.

Kelebihan Al-Ajurumiyah antara lain:

  • Materinya ringkas tetapi sistematis sehingga mudah dipelajari oleh santri pemula.
  • Menjadi fondasi untuk memahami kitab-kitab Arab tanpa harakat (kitab gundul).
  • Digunakan secara luas di dunia Islam, termasuk di Aceh, Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Asia Tenggara.
  • Menjadi bekal sebelum mempelajari kitab nahwu tingkat lanjut seperti Mutammimah dan Alfiyah Ibnu Malik.

Bagi banyak santri, menguasai Al-Ajurumiyah adalah langkah awal untuk memasuki dunia literatur Islam klasik.

Fath al-Qarib: Memahami Fikih Mazhab Syafi'i

Jika Al-Ajurumiyah mengajarkan cara memahami bahasa Arab, maka Fath al-Qarib mengajarkan bagaimana seorang Muslim menjalankan syariat dalam kehidupan sehari-hari.

Kitab yang ditulis oleh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi ini merupakan syarah (penjelasan) atas Matan Abu Syuja'. Isinya membahas fikih menurut Mazhab Syafi'i, mazhab yang dianut mayoritas umat Islam di Aceh.

Materi yang dibahas sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari tata cara bersuci, salat, puasa, zakat, haji, jual beli, pernikahan, hingga berbagai persoalan muamalah.

Mengapa kitab ini begitu banyak dipelajari?

Karena pembahasannya cukup ringkas, namun tetap mencakup pokok-pokok fikih yang harus dipahami seorang Muslim. Bahasa yang digunakan juga relatif mudah dibandingkan kitab-kitab fikih tingkat lanjut.

Kelebihan Fath al-Qarib di antaranya:

  • Menyajikan pembahasan fikih secara sistematis dan mudah diikuti.
  • Menjadi pintu masuk sebelum mempelajari kitab fikih yang lebih mendalam seperti Fath al-Mu'in dan I'anat al-Talibin.
  • Sangat sesuai dengan praktik ibadah masyarakat Aceh yang mayoritas mengikuti Mazhab Syafi'i.
  • Membantu santri memahami dasar hukum ibadah dan kehidupan bermasyarakat berdasarkan pendapat ulama mazhab.

Karena alasan itulah, Fath al-Qarib menjadi salah satu kitab fikih yang paling dikenal di lingkungan dayah.

Mengapa Kedua Kitab Ini Dipelajari Bersamaan?

Ada sebuah filosofi menarik dalam pendidikan dayah.

Seorang santri tidak hanya dituntut mengetahui apa hukum Islam, tetapi juga mampu membaca sumber hukumnya.

Di sinilah kedua kitab tersebut saling melengkapi.

Al-Ajurumiyah membekali santri dengan kemampuan memahami tata bahasa Arab sehingga mereka mampu membaca kitab-kitab klasik secara mandiri. Sementara Fath al-Qarib memberikan bekal pemahaman fikih yang akan menjadi pedoman dalam menjalankan ibadah dan kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, yang satu adalah alat untuk memahami ilmu, sedangkan yang lain adalah ilmu yang dipahami.

Warisan Keilmuan yang Tetap Relevan

Di era digital, ketika ribuan informasi dapat diperoleh hanya melalui layar ponsel, tradisi mempelajari kitab kuning tetap memiliki tempat tersendiri. Pendidikan di dayah mengajarkan bahwa memahami ilmu agama tidak cukup dengan membaca terjemahan atau potongan informasi di media sosial. Diperlukan proses belajar yang bertahap, penguasaan bahasa, bimbingan guru, serta adab dalam menuntut ilmu.

Karena itulah, Al-Ajurumiyah dan Fath al-Qarib tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari kurikulum banyak dayah di Aceh. Kedua kitab ini bukan sekadar buku pelajaran, melainkan pintu masuk menuju khazanah keilmuan Islam yang telah diwariskan para ulama selama berabad-abad.

Di balik lembaran-lembarannya, tersimpan sebuah pelajaran penting: ilmu yang kokoh selalu dibangun di atas dasar yang kuat. Dan bagi banyak santri Aceh, fondasi itu dimulai dari dua kitab sederhana yang telah menemani perjalanan mereka sejak awal menuntut ilmu. []

Lebih baru Lebih lama