Berita tentang keramahan itu menyebar dari mulut ke mulut, lalu diperkuat oleh media sosial yang membuat pesona Aceh kian mendunia. Dua nama yang paling sering disebut adalah Banda Aceh dan Sabang. Keduanya seperti dua bab dalam satu buku perjalanan: yang satu mengajarkan tentang sejarah dan refleksi, yang lain menghadiahkan jeda dan ketenangan.
Jika Indonesia memiliki Bali dan Papua memiliki Raja Ampat, maka Aceh punya Sabang—yang juga dikenal sebagai Pulau Weh. Konon, pulau ini dahulu menyatu dengan Sumatra sebelum gempa memisahkannya. “Weh” dalam bahasa Aceh berarti pergi. Barangkali ia memang ditakdirkan untuk “pergi” sejenak dari daratan utama, agar kelak menjadi tempat orang-orang belajar tentang arti pulang.
Perjalanan menuju Banda Aceh dari Jakarta ditempuh sekitar tiga jam melalui jalur udara. Jika dari Medan, perjalanan darat dengan bus malam memakan waktu sekitar 10–12 jam. Biasanya berangkat malam dan tiba saat pagi mulai merekah. Ada sensasi tersendiri saat memasuki kota ini di waktu subuh—udara yang lembut dan langit yang perlahan terang seakan memberi salam pertama.
Setibanya di Banda Aceh, jangan terburu-buru. Beri diri waktu sehari untuk menyelami kota ini. Pagi hari bisa dimulai dengan segelas kopi Aceh yang harum, ditemani timphan, pulut ketan, atau nasi gurih. Di hampir setiap warung kopi, lontong dan nasi gurih tersusun rapi di rak kaca. Sarapan di sini bukan sekadar makan, tetapi pengalaman sosial—orang-orang berbincang, bertukar kabar, dan tertawa ringan.
Siang harinya, kuah beulangong menjadi primadona. Gulai daging atau kambing kaya rempah ini biasanya tidak memakai santan, meski beberapa tempat menambahkannya. Rasanya gurih, sedikit pedas, dengan warna merah menggoda selera. Hampir di seluruh wilayah Aceh—dari Sigli hingga Takengon—menu ini mudah ditemukan. Setiap daerah punya sentuhan rasa yang berbeda, seolah menyimpan rahasia dapurnya sendiri.
Di sela perjalanan kuliner, langkah kaki akan terasa belum lengkap tanpa mengunjungi Museum Tsunami Aceh yang tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Museum yang dirancang oleh Ridwan Kamil ini berdiri sebagai pengingat peristiwa gempa dan tsunami 2004 yang merenggut begitu banyak nyawa. Bangunannya berbentuk oval, megah sekaligus syahdu.
Di dalamnya ada lorong dengan gemericik air di dinding, membawa pengunjung masuk ke ruang refleksi bernama Sumur Doa. Nama-nama korban tertulis di dinding, lantunan zikir terdengar pelan. Di sana, waktu terasa melambat. Hati menjadi lebih lembut, pikiran lebih hening. Kita diingatkan bahwa hidup adalah titipan, dan setiap detik adalah kesempatan untuk bersyukur.
Sore dan malam hari di Banda Aceh belum usai tanpa mie Aceh. Ada mie goreng, mie tumis, atau mie rebus dengan pilihan daging, udang, kepiting, atau ikan. Harganya masih bersahabat. Dengan belasan hingga puluhan ribu rupiah, semangkuk mie panas sudah cukup menghangatkan tubuh dan percakapan.
Perjalanan berlanjut menuju Sabang melalui Pelabuhan Ulee Lheue. Kapal seperti KMP Pulau Rondo atau Aceh Hebat 2 membawa penumpang menyeberangi laut sekitar dua jam menuju Pelabuhan Balohan. Di atas kapal, mata dimanjakan oleh birunya laut dan siluet daratan yang perlahan menjauh. Jika beruntung, lumba-lumba melompat di kejauhan, seolah menyambut para tamu.
Sesampainya di Sabang, suasana terasa lebih santai. Tidak banyak hiruk pikuk. Waktu berjalan lebih pelan. Dari pelabuhan, tersedia kendaraan sewaan menuju pusat kota atau kawasan Iboh. Kamu bisa memilih menginap di pusat kota untuk menikmati kafe-kafe tepi laut di malam hari, atau di Iboh yang terkenal dengan vila-vila menghadap laut.
Iboh sering disebut sebagai jantung wisata Sabang. Airnya jernih, biru toska, dengan terumbu karang yang masih terjaga. Snorkeling di sini seperti membuka pintu dunia lain—ikan-ikan kecil berenang bebas, karang berwarna-warni menari di dasar laut. Bagi pemula pun tak perlu khawatir karena ada pemandu yang siap membantu.
Tak jauh dari Iboh berdiri Tugu Kilometer Nol Indonesia—titik paling barat negeri ini. Berdiri di sana menghadirkan rasa haru yang sulit dijelaskan. Kita seperti berada di ujung peta, di titik awal sebuah perjalanan panjang bernama Indonesia. Banyak orang berfoto di sini, mengabadikan momen sebagai penanda bahwa mereka pernah sampai di batas barat nusantara.
Bagi pencinta panorama dramatis, Gua Sarang menawarkan tebing-tebing batu dengan laut hijau kebiruan di bawahnya. Ada pula Danau Aneuk Laot yang tenang, Sumur Tiga dengan hamparan pasirnya, serta Sabang Fair yang ramai di waktu tertentu. Dan tentu saja, jangan lupa mencicipi sate gurita khas Sabang—kenyal, gurih, berpadu dengan bumbu kacang yang kaya rasa.
Di Sabang, matahari terbenam bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah momen perenungan. Langit jingga perlahan berubah gelap, angin laut menyentuh wajah, dan hati terasa ringan. Di sana, kita belajar bahwa alam adalah anugerah. Bahwa kesibukan kota besar sesekali perlu ditinggalkan, agar jiwa bisa bernapas kembali.
Aceh bukan lagi cerita tentang ketakutan masa lalu. Ia adalah kisah tentang bangkit, tentang keramahan, tentang rasa syukur yang dirawat dalam keseharian. Banda Aceh mengajarkan kita untuk mengingat, Sabang mengajak kita untuk jeda. Dan di antara keduanya, ada pengalaman yang tak sekadar dilihat, tetapi dirasakan.
